Pernahkah Anda ingin membuat buyer persona untuk bisnis, tetapi justru bingung harus mulai dari mana?
Anda mungkin sudah tahu bahwa buyer persona penting untuk membantu memahami pelanggan. Namun, ketika mulai membuatnya, muncul banyak pertanyaan: Data apa yang harus disiapkan? Harus menggunakan tools apa? Apa yang harus ditanyakan kepada AI? Dan bagaimana tahu bahwa hasilnya benar?
Tenang. Anda tidak perlu menjadi ahli marketing atau AI untuk memulainya.
Dalam artikel ini, Anda akan belajar membuat buyer persona menggunakan Claude, mulai dari menyiapkan data hingga mendapatkan profil pelanggan yang bisa digunakan untuk membantu strategi marketing.
Jangan Langsung Minta AI Membuat Buyer Persona
Ada satu kesalahan yang sering terjadi ketika menggunakan AI: langsung mengetik,
“Buatkan buyer persona untuk bisnis saya.”
Cara tersebut memang bisa menghasilkan profil pelanggan yang terlihat meyakinkan. Namun, hasilnya belum tentu menggambarkan pelanggan Anda yang sebenarnya.
Buyer persona seharusnya dibangun dari data pelanggan, seperti review, hasil survei, transaksi, percakapan dengan pelanggan, maupun data perilaku. AI kemudian membantu menemukan pola dari data tersebut dan menyusunnya menjadi profil yang lebih mudah dipahami. Berikut adalah langkahnya:
Langkah 1 Siapkan Data Pelanggan
Sebelum membuka Claude, kumpulkan data pelanggan yang sudah Anda miliki.
Tidak harus lengkap atau menggunakan sistem yang rumit. Anda bisa menggunakan review pelanggan, hasil survei, komentar media sosial, data transaksi, atau catatan percakapan dengan pelanggan. HubSpot juga menyarankan menggabungkan beberapa jenis data agar persona tidak hanya berdasarkan satu sumber.
Tools yang digunakan:
Claude + data pelanggan yang sudah Anda miliki.

Jika data Anda masih berantakan, Anda bisa meminta Claude membantu mengelompokkannya terlebih dahulu:
“Saya akan memberikan data pelanggan dari bisnis saya. Jangan membuat buyer persona terlebih dahulu. Bantu saya mengelompokkan informasi yang terdapat dalam data tersebut menjadi: karakteristik pelanggan, kebutuhan, masalah/pain point, alasan membeli, keberatan sebelum membeli, dan perilaku pelanggan. Bedakan informasi yang benar-benar terdapat dalam data dengan kesimpulan yang masih berupa dugaan.”
Kemudian masukkan data pelanggan Anda setelah prompt tersebut.
Claude akan membantu mengubah data yang masih berantakan menjadi beberapa kelompok informasi.
Misalnya, dari review sebuah coffee shop, Claude menemukan bahwa pelanggan menyukai tempat yang nyaman, tetapi sebagian pelanggan mengeluhkan pilihan menu yang terbatas dan harga yang cukup tinggi.
Inilah bahan dasar buyer persona Anda. Jangan membuat persona sebelum memiliki gambaran dari data tersebut.
Langkah 2 Temukan Pola Pelanggan
Setelah data dikelompokkan, sekarang gunakan Claude untuk mencari pola yang paling sering muncul.
Tujuannya bukan mencari semua hal tentang pelanggan, tetapi menemukan kesamaan: siapa mereka, apa yang mereka butuhkan, apa masalah mereka, dan apa yang mendorong mereka membeli.
Pendekatan ini sejalan dengan penggunaan AI untuk menemukan karakteristik, pain points, dan perilaku dari kumpulan data pelanggan.

“Berdasarkan data yang sudah dianalisis, identifikasi pola pelanggan yang paling sering muncul. Jelaskan secara singkat:
- Siapa kelompok pelanggan yang paling terlihat?
- Apa tujuan atau kebutuhan utama mereka?
- Apa masalah terbesar mereka?
- Apa yang mendorong mereka membeli?
- Apa yang membuat mereka ragu membeli?
Jangan membuat informasi yang tidak terdapat dalam data. Jika suatu kesimpulan belum memiliki bukti yang cukup, tandai sebagai dugaan.”
Claude akan menghasilkan gambaran pola pelanggan.
Contohnya:
Kelompok pelanggan: pekerja muda yang mencari tempat untuk menikmati kopi sekaligus bekerja.
Kebutuhan: tempat nyaman dan pilihan minuman yang sesuai selera.
Masalah: pilihan menu terbatas dan harga dianggap cukup mahal.
Motivasi: kenyamanan, rasa, dan pengalaman.
Keraguan: harga dan kesesuaian produk dengan selera.
Sekarang Anda mulai mengetahui “siapa pelanggan Anda dan apa yang mereka cari”, bukan sekadar menebak berdasarkan usia atau pekerjaan.
Langkah 3 Ubah Pola Menjadi Buyer Persona

Setelah pola pelanggan ditemukan, barulah Claude digunakan untuk menyusun buyer persona.
Buyer persona dapat mencakup informasi seperti demografi, tujuan, motivasi, pain points, perilaku pembelian, sumber informasi, dan cara komunikasi yang disukai.
Agar tidak terlalu rumit, kita cukup menggunakan informasi yang benar-benar berguna untuk marketing.
“Berdasarkan pola pelanggan yang sudah ditemukan, buatkan 1 buyer persona yang ringkas dan mudah dipahami. Gunakan struktur berikut:
- Nama persona
- Gambaran singkat
- Pekerjaan/aktivitas utama
- Tujuan
- Kebutuhan
- Pain point
- Motivasi membeli
- Faktor yang membuat ragu membeli
- Channel yang kemungkinan digunakan untuk mencari informasi
Gunakan hanya informasi yang didukung oleh data. Jika ada informasi yang belum diketahui, tuliskan ‘belum diketahui’ daripada mengarang.”
Claude akan mengubah hasil analisis menjadi profil pelanggan yang lebih mudah dibaca.
Sekarang Anda sudah memiliki buyer persona yang dapat digunakan sebagai gambaran pelanggan utama.
Langkah 4 Cari Cara Berkomunikasi dengan Persona

Buyer persona bukan hanya tentang siapa pelanggan Anda, tetapi juga tentang bagaimana bisnis dapat berbicara kepada mereka.
HubSpot memasukkan sumber informasi, kebiasaan konsumsi media, keberatan pelanggan, dan pesan utama sebagai bagian penting dari proses penyusunan persona.
Gunakan Claude untuk menerjemahkan persona tadi menjadi arahan komunikasi.
“Berdasarkan buyer persona yang telah dibuat, bantu saya menentukan cara berkomunikasi dengan pelanggan tersebut. Berikan:
- Topik yang kemungkinan menarik bagi mereka.
- Masalah yang sebaiknya dibahas dalam konten marketing.
- Pesan utama yang dapat digunakan untuk memperkenalkan produk.
- Gaya bahasa yang sesuai.
- Contoh channel marketing yang relevan.
Jangan membuat klaim tentang kebiasaan pelanggan yang tidak didukung oleh data. Jika belum diketahui, tandai sebagai hal yang perlu diuji.”
Claude akan membantu mengubah buyer persona menjadi arahan marketing.
Misalnya, jika persona memiliki masalah mengenai harga dan kesesuaian produk, Claude dapat menyarankan agar komunikasi marketing lebih banyak menjelaskan nilai produk, pilihan menu, serta pengalaman yang didapat pelanggan, daripada hanya mengatakan bahwa produk tersebut berkualitas.
Dengan begitu, buyer persona tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi mulai digunakan untuk menentukan apa yang harus dikomunikasikan kepada pelanggan.
Setelah Buyer Persona Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?
Buyer persona bukan sesuatu yang dibuat lalu disimpan di folder dan dilupakan.
Gunakan hasilnya sebagai dasar untuk menentukan:
- topik konten,
- pesan iklan,
- isi landing page,
- komunikasi WhatsApp atau email,
- penawaran produk,
- hingga pendekatan Sales.
HubSpot juga menyarankan agar persona digunakan dalam strategi konten, segmentasi email, copywriting iklan, landing page, serta penyelarasan Sales dan Marketing.
Misalnya, daripada bertanya:
“Konten apa yang sedang viral?”
Anda dapat mulai bertanya:
“Konten apa yang membantu menyelesaikan masalah buyer persona saya?”
Pertanyaan tersebut membuat aktivitas marketing lebih berangkat dari kebutuhan pelanggan.
Kesimpulan
Membuat buyer persona menggunakan AI Claude sebenarnya tidak harus rumit.
Yang perlu diingat, Claude bukan alat untuk menebak pelanggan Anda. AI membantu Anda mengolah informasi yang sudah dimiliki menjadi insight yang lebih terstruktur.
Jika belum memiliki banyak data, Anda tetap dapat membuat persona awal berdasarkan informasi tentang target pasar. Namun, anggap hasil tersebut sebagai hipotesis, bukan fakta final. Seiring bertambahnya review, transaksi, survei, dan feedback pelanggan, persona dapat diperbarui kembali. Miro dan Creately sama-sama menekankan pentingnya iterasi serta pembaruan persona ketika data baru tersedia.
Dengan cara ini, Anda tidak perlu pusing memilih banyak tools.
Cukup siapkan data pelanggan, gunakan Claude untuk membantu menganalisisnya, lalu ikuti tahap demi tahap di atas.
Hasil akhirnya bukan sekadar profil pelanggan yang terlihat menarik, tetapi gambaran pelanggan yang dapat membantu Anda menentukan bagaimana bisnis sebaiknya berkomunikasi dan memasarkan produknya.
Referensi


